Selasa, 16 Desember 2014

MEREBUS TELUR DENGAN HANDPHONE


MEREBUS TELUR DENGAN HANDPHONE

Banyak organisasi termasuk industri HP seringkali mengesampingkan akibat radiasi HP kepada otak. Hasil-hasil studi jangka pendek yang dimanfaatkan untuk meyakinkan para konsumen bahwa dengan menggunakan HaPe tidak ada hubungannya dengan kanker atau tumor otak, yang hanya berkembang beerapa dekade setelah terekspose.

Wajar saja, tidak ada seorangpun mengetahui secara pasti sejauh mana sebuah HaPe dapat membahayakan seseorang. Media baru Howe Recently melaporkan sebuah studi yang memperlihatkan radiasi HaPe yang penuh dengan energi dapat digunakan untuk memasak telor.

Dalam sebuah percobaan, peneliti menyimpan sebuah telor di dalam sebuah cangkir porselen (karena mudah untuk menyerap panas), dan meletakkan dua buah HaPe yang saling berhadapan dengan telor di dalam cangkir porselen tersebut. Peneliti kemudian memanggil salah satu HaPe kemudian menyimpannya berhadapan dalam keadaan salurannya tersambungkan untuk jangka waktu beberapa lama.
Selama 15 menit pertama, tidak terjadi perubahan apa-apa. Namun, setelah 25 menit kemudian kulit telor mulai memanas dan setelah 40 menit kemudian permukaan kulit telor menjadi keras dan merekah. Para peneliti menemukan protein yang berupa putih telor menjadi keras meskipun kuning telurnya masih dalam bentuk cairan. Setelah 65 menit telur matang dengan sempurna.
Penelitian memperlihatkan bagaimana menakutkannya radiasi HaPe. Kita harus berusaha untuk menghindari penggunaan HaPe. Meskipun tidak seorangpun telah membuktikan radiasi dari HaPe dapat menyebabkan sesuatu yang secara klinis signifikan. Lagipula, tidak seorangpun yang dapat menyanggah risiko tersebut.
Anak-anak harus dilarang menggunakan HaPe karena otak mereka masih berkembang dan terutama rawan terhadap radiasi.

Sumber : http://artikelsainsku.blogspot.com/

Minggu, 14 Desember 2014

Elektroskop



A.    Elektroskop
Elektroskop adalah semua alat yang dapat digunakan untuk mengetahui apakah suatu benda bermuatan listrik atau tidak dan jenis muatan suatu benda. Bangun elektroskop terdiri atas dua buah daun logam tipis yang dipasang tipis pada ujung batang logam. Ujung lain batang itu biasanya dipasang bola logam (knob). Untuk menghindarkan dari berpindahnya muatan ke udara bebas, batang tersebut dimasukkan ke dalam kaca.
Contoh gambar elektroskop:
                                                  Gambar  Elektroskop

B.     Prinsip Kerja Elektroskop
Apabila sebatang pelat politen yang bermuatan negatif didekatkan pada kepala elektroskop yang netral, maka elektron di dalam kepala elektroskop berpindah menuju pelat dan daun elektroskop. Akibatnya, kepala elektroskop kekurangan elektron (bermuatan positif) dan daun elektroskop kelebihan elektron (bermuatan negatif). Pelat dan daun sama-sama bermuatan listrik negatif. Sehingga terjadi gaya tolak-menolak. Dan daun elektroskop membuka (mekar).
Apabila kepala elektroskop netral di dekatkan sebatang kaca yang bermuatan listrik positif, maka elektron – elektron yang berada pada daun dan pelat elektroskop ditarik menuju kepala elektroskop (Ingat positif-negatif saling tarik menarik). Akibatnya, kepala elektroskop bermuatan listrik negatif, pelat dan daun elektroskop membuka (mekar) karena terjadi gaya tolak menolak.
Elektroskop yang telah bermuatan listrik ini dapat digunakan untuk mengetahui jenis muatan. Apabila benda yang didekatkan kepala elektroskop menyebabkan daun elektroskop lebih mekar, maka muatan listrik pada kepala elektroskop adalah sejenis dengan benda yang didekatkan. Apabila benda yang di dekatkan menyebabkan daun elektroskop lebih kuncup, maka muatan listrik pada kepala elektroskop adalah tidak sejenis dengan benda yang di dekatkan.

C.    Memberi Muatan Listrik dengan Induksi
Induksi elektrostatik adalah pemisahan muatan-muatan pada sebuah benda oleh adanya benda lain yang bermuatan. Pada saat benda bermuatan listrik didekatkan pada sebuah benda netral, terjadi pemisahan muatan pada benda netral itu. Ujung benda netral yang berdekatan dengan penginduksi bermuatan sama dengan benda yang penginduksi. Bila benda tersebut dihubungkan ke bumi (misalnya dengan sentuhan). Terjadinya pemindahan elektron dari atau ke bumi melalui tubuh. Setelah benda bermuatan dijauhkan, benda menjadi kekurangan atau kelebihan elektron sehingga benda netral menjadi bermuatan listrik.


DAFTAR PUSTAKA

Organel Sel Tumbuhan



Ø Sitoplasma
Bagian yang cair dalam sel dinamakan Sitoplasma khusus untuk cairan yang berada dalam inti sel dinamakan Nukleoplasma). Penyusun utama dari sitoplasma adalah air (90%), berfungsi sebagai pelarut zat-zat kimia serta sebagai media terjadinya reaksi kirnia sel.
Ø  Retikulum Endoplasma (RE.)
Yaitu struktur berbentuk benang-benang yang bermuara di inti sel. Fungsi R.E. adalah : sebagai alat transportasi zat-zat di dalam sel itu sendiri. Struktur R.E. hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron. Dalam sel terdapat dua tipe retikulum endoplasma (RE) yaitu retikulum endoplasma kasar (REK) dan retikulum endoplasma halus (REH).
REK dikatakan kasar karena permukaannya diselubungi oleh ribosom sehingga tampak seperti helaian panjang kertas pasir. REH tidak ditempeli ribosom sehingga permukaannya nampak halus. REH memiliki enzim-enzim pada permukaannya yang berfungsi untuk sintesis lipid, glikogen dan persenyawaan steroid seperti kolesterol, gliserida dan hormon.
Ø  Ribosom (Ergastoplasma)
Struktur ini berbentuk bulat terdiri dari dua partikel besar dan kecil, ada yang melekat sepanjang R.E. dan ada pula yang soliter. Ribosom merupakan organel sel terkecil yang tersuspensi di dalam sel. Fungsi dari ribosom adalah tempat sintesis protein.Struktur ini hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron.
Ø  Mitokondria (The Power House)
Struktur berbentuk seperti cerutu ini mempunyai dua lapis membran.Lapisan dalamnya berlekuk-lekuk dan dinamakan KristaFungsi mitokondria adalah sebagai pusat respirasi seluler yang menghasilkan banyak ATP (energi).
Ø  Lisosom
Fungsi dari organel ini adalah sebagai penghasil dan penyimpan enzim pencernaan seluler. Salah satu enzi nnya itu bernama Lisozym.
Ø  Badan Golgi (Apparatus Golgi = Diktiosom)
Organel ini dihubungkan dengan fungsi ekskresi sel, dan struktur ini dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop cahaya biasa. Organel ini banyak dijumpai pada organ tubuh yang melaksanakan fungsi ekskresi, misalnya ginjal.
Ø  Vakuola (RonggaSel)
Vakuola adalah membran, organel penyimpanan yang membantu dalam mengatur tekanan turgor dari sel tumbuhan. Dalam sel tumbuhan, bisa ada lebih dari satu vakuola. Namun, vakuola berlokasi lebih besar daripada yang lain, yang menyimpan segala macam senyawa kimia. Vakuola juga membantu dalam pencernaan intraselular molekul kompleks dan ekskresi produk-produk limbah.
Ø  Mikrotubulus
Berbentuk benang silindris, kaku, berfungsi untuk mempertahankan bentuk sel dan sebagai “rangka sel”.
Ø  Mikrofilamen
Seperti Mikrotubulus, tetapi lebih lembut. Terbentuk dari komponen utamanya yaitu protein aktin dan miosin (seperti pada otot). Mikrofilamen berperan dalam pergerakan sel.
Ø  Peroksisom (Badan Mikro)
Peroksisom adalah organel sitoplasma dari sel tumbuhan, yang mengandung enzim oksidatif tertentu. Enzim ini digunakan untuk pemecahan metabolisme asam lemak ke dalam bentuk gula sederhana. Fungsi penting lainnya dari peroksisom adalah untuk membantu kloroplas dalam menjalani proses fotorespirasi.
Ø  Plasmodesmata
Plasmodesamata adalah benang-benang protoplasmik halus yang terletak pada tempat-tempat tertentu pada dinding sel primer (yaitu pada noktah yang berupa bagian dinding sel yang tidak mengalami penebalan). Plasmodesamata dapat menembus pori-pori kecil pada dinding sel primer dan lamella tengah diantara sel-sel yang bedekatan sehingga protoplasma kedua sel dapat berhubungan. Plasmodesmata memudahkan proses transportasi bahan-bahan dari sebuah sel ke sel berikutnya tanpa harus melalui selaput-selaput hidup. Adanya plasmodesmata menunjukkan bahwa tumbuhan berperilaku lebih sebagai suatu organisme tunggal dari pada sebagai sekumpulan unit sel bebas.
Ø  Membran sel
Membran sel atau membran plasma merupakan bagian sel yang paling luar yang membatasi isi sel dan sekitarnya. Membran ini tersusun dari dua lapisan yang terdiri dari fosfolipid (50%) dan protein/lipoprotein (50%). Membran plasma bersifat semipermeabel atau selektif permeabel yang berfungsi mengatur gerakan materi atau transportasi zat-zat terlarut masuk dan keluar dari sel.
Ø  Nukleus
Nukleus adalah inti sel yang memiliki membran inti dengan susunan molekul sama dengan membran sel yaitu berupa lipoprotein. Pori-pori pada membran inti memungkinkan hubungan antara nukleoplasma dan sitoplasma. Fungsi utama nukleus adalah sebagai pusat yang mengontrol kegiatan sel dan mengandung bahan-bahan yang menentukan sifat-sifat turun-temurun suatu organisma. Nucleus (jamak nuklei) adalah organel sel yang sangat khusus, yang menyimpan komponen genetik (kromosom) dari sel tertentu. Ini berfungsi sebagai pusat administrasi utama sel dengan mengkoordinasikan proses metabolisme seperti pertumbuhan sel, pembelahan sel, dan sintesis protein. Bersama-sama, inti beserta isinya disebut sebagai nukleoplasma.
Ø  Dinding sel
Sel tumbuhan terdiri atas protoplas yang terselubungi oleh dinding sel. Dinding sel tumbuhan memiliki struktur yang kompleks dengan memiliki tiga bagian fundamental yang dapat dibedakan yaitu lamela tengah, dinding sel primer dan dinding sel sekunder. Semua sel memiliki lamela tengah dan dinding sel primer, sedangkan dinding sel sekunder hanya pada sel-sel tipe tertentu.
Ø  Plastida
Plastida adalah istilah kolektif untuk organel yang membawa pigmen. Dalam sel tumbuhan, kloroplas adalah bentuk paling menonjol dari plastida yang mengandung pigmen klorofil hijau. Karena ini plastida (kloroplas) pada sel tumbuhan memiliki fungsi untuk fotosintesis di hadapan sinar matahari, air, dan karbon dioksida untuk mensintesis makanan sendiri.


Daftar Pustaka
http://www.pustakasekolah.com/artikel-biologi-sel.html diakses pada tanggal 16 Februari 2014

Sejarah Penemuan Sel


KRONOLOGIS SEJARAH PENEMUAN SEL
Sejarah penemuan sel berlangsung sejah abad ke 16 hingga sekarang. Berikut ini adalah kronologis sejarah penemuan Sel dari yang awal hingga sekarang.
1.        Penemuan Mikroskop oleh Antonie van Leeuwenhoek (1632-1723)
Sejarah penemuan sel di awali pada abad ke 16, ketika seorang ilmuwan Belanda bernama Antonie van Leeuwenhoek yang hidup pada 1632–1723 merancang sebuah mikroskop kecil berlensa tunggal. Mikroskop itu digunakan untuk mengamati air rendaman jerami. Ia menemukan organisme yang bergerak-gerak di dalam air, yang kemudian disebut bakteri. Antonie van Leeuwenhoek merupakan orang pertama yang menemukan sel hidup.
2.        Penciptaan istilah Sel oleh Robert Hooke (1635-1703)
Sebutan sel baru terkenal di masa Robert Hooke (1635-1703) yang pada tahun 1665 mengamati sayatan gabus dari batang Quercus suber menggunakan mikroskop. Ia menemukan adanya ruang-ruang kosong yang dibatasi dinding tebal dalam pengamatannya. Robert Hooke menyebut ruang-ruang kosong tersebut dengan istilah cellulae artinya sel. Sel yang ditemukan Robert Hooke merupakan sel-sel gabus yang telah mati. Sejak saat inilah kemudia sebutan sel menjadi terkenal dan di gunakan sebagai istilah dalam ilmu Biologi.
3.        Penemuan Nukleus atau Inti Sel oleh Robert Brown
Pada tahun 1831, Robert Brown seorang ilmuwan Scotlandia melihat benda kecil yang terapung-apung dalam sel saat mengamati struktur sel dari jaringan tanaman anggrek. Benda tersebut kemudian diberi nama inti sel atau nukleus. Berdasarkan analisanya diketahui bahwa inti sel selalu terdapat dalam sel hidup dan berfungsi untuk mengatur segala proses yang terjadi di dalam sel.
4.        Penemuan Protoplasma oleh Felix Durjadin dan Johannes Purkinye
Protoplasma pertama kali di temukan oleh Felix Durjadin pada tahun 1835. Namun saat itu Felix hanya menyebutnya sebagai cairan sel yang dianggap Felix sebagai bagian terpenting sel. Istilah Protoplasma baru di ciptakan oleh Johannes Purkinye untuk menyebut cairan sel yang merupakan bahan mebrional sel telur.
5.        Teori Sel sebagai penyusun tubuh makhluk hidup oleh Schleiden (1804-1881) dan T. Schwann (1810-1882)
Di awal abad 18, sejarah penemuan sel di lanjutkan dengan penelitian dua orang ilmuwan yaitu Schleiden (1804-1881) dan T. Schwann (1810-1882). Masing-masing meneliti sel tumbuhan dan sel hewan. Schleiden mengamati tumbuhan dan menemukan bahwa tubuh tumbuhan tersusun dari banyak sel. Begitu pula Schwann yang mengamati tubuh hewan juga mendapati bahwa tubuh hewan tersusun dari banyak sel. Berdasarkan pengamatannya itu, kedua ilmuwan tersebut kemudian berpendapat bahwa Sel merupakan unit terkecil penyusun tubuh makhluk hidup. Teori ini di sebut juga Teori Struktural Sel
6.        Teori Sel sebagai unit Fungsional makhluk hidup oleh Max Schultze
Max Schultze (1825–1874) menyatakan bahwa protoplasma merupakan dasar fisik kehidupan. Protoplasma bukan hanya bagian struktural sel, tetapi juga merupakan bagian penting sel sebagai tempat berlangsung reaksi-reaksi kimia kehidupan. Berdasarkan hal ini muncullah teori sel yang menyatakan bahwa sel merupakan kesatuan fungsional kehidupan.
7.        Teori Sel sebagai Unit reproduksi Makhluk Hidup oleh Rudolph Virchow
Rudolph Virchow (1821–1902) berpendapat bahwa sel merupakan unit reproduksi makluk hidup melalui teorinya yang terkenal yaitu: ‘omnis cellula ex cellulae’ (semua sel berasal dari sel sebelumnya). Inilah merupakan dasar dari penemuan sistem perkembangbiakan vegetatif secara Kloning.
Selain nama-nama di atas juga ada juga ilmuwan yang mengamati sel dan menemukan hal-hal baru tentang sel seperti Hanstein yang berpendapat bahwa sel merupakan kantong yang berisi organel, Eduard Strasburger & Walter Fleminggo yang berpendapat bahwa sel sebagai unit reproduksi makhluk hidup, Watson dan Crick (1953) yang menyebutkan bahwa materi genetik diturunkan oleh sel kepada keturunannya dan Lynn Margulis (1981)  yang menemukan bahwa terdapat simbiosis di dalam evolusi sel.

Daftar Pustaka
Septian, Rangga. 2013. Sejarah Penemuan Sel. http://www.jeplax.com/2013/05/sejarah     penemuan-sel-kronologis-sejarah.html (Online), diakses 29 September 2014.
Suparno, Gatot,.dkk. 2012. Kehidupan Tingkat Sel. Surabaya: Unesa University Press

Perbedaan Sel Hewan dan Sel Tumbuhan


 Perbedaan Sel Hewan dan Sel Tumbuhan


NO
Sel Tumbuhan
Sel Hewan
1.
Sel tumbuhan lebih besar daripada sel hewan
Sel hewan lebih kecil daripada sel tumbuhan
2.
Mempunyai bentuk yang tetap
Tidak mempunyai bentuk yang tetap
3.
Mempunyai dinding sel (cell wall) dari selulosa
Tidak mempunyai dinding sel (cell wall)
4.
Mempunyai plastida
Tidak mempunyai plastida
5.
Mempunyai vakuola atau rongga sel yang besar
Tidak mempunyai vakuola, walaupun terkadang sel beberapa hewan uniseluler memiliki vakuola (tapi tidak sebesar yang dimiliki tumbhan) yang biasa dimiliki hewan adalah vesikel (vesicle)
6.
Menyimpan tenaga dalam bentuk butiran (granul) pati
Menyimpan tenaga dalam bentuk butiran (granul) glikogen
7.
Tidak mempunyai sentrosom
Mempunyai sentrosom
8.
Tidak mempunyai lisosom
Mempunyai lisosom
9.
Nukleus lebih kecil daripada vakuola
Nukleus lebih besar daripada vesikel

Selasa, 09 Desember 2014

SIFAT-SIFAT PROTOPLASMA


SIFAT-SIFAT PROTOPLASMA

Protoplasma merupakan elemen utama sebuah sel. Istilah protoplasma berasal dari bahasa Latin, proto artinya pertama dan plasma berarti substansi. Jadi, protoplasma adalah substansi dasar kehidupan yang terdapat pada semua sel makhluk hidup (Purkinye: 1840).
Protoplasma merupakan suatu koloid yang bersifat polifasik. Pada dasarnya terdiri dari air dengan berbagai tingkat ketercairan dan mengandung bahan baik yang larut maupun tak larut. Sebagaimana system koloid yang lain, maka protoplasma dapat berubah dari fase sol menjadi fase gel. Suatu kejadian pada massa yang sama dari protoplasma, hanya satu yang berbentuk seperti agar-agar sedangkan fase yang lain lebih cair. Di dalam koloid terlarut partikel-partikel dengan ukuran diameter antara 0,001µ-0,1µ. Jika partikel-partikel yang terlarut ukurannya lebih besar dari ukuran partikel koloid, maka disebut suspense, dan jika lebih kecil diseebut larutan. Di dalam protoplasma terdapat sejumlah vakuola kecil-kecil dengan cairan di dalamnya. Oleh karena itu protoplasma tampak sebagai koloid dibandingkan dengan larutan, emulsi dan gel.
Protoplasma bersifat pekat (kental), jernih (terang) dan koloid polifasis.  Dari reaksi reaksi kimia yang terjadi antara senyawa senyawa inilah yang mengakibatkan adanya gejala gejala kehidupan di protoplasma. Gejala kehidupan itu misalnya metabolisme, tumbuh, bergerak, berkembang biak, sirkulasi zat dll. Misalnya respirasi, fotosintesis, sintesis lemak.
Protoplasma pada semua sel terdiri atas dua komponen utama, komponen anorganik dan  komponen organik.
1.      Komponen-komponen anorganik terdiri atas air, garam-garam mineral, gas oksigen, karbon dioksida, nitrogen, dan amonia,
2.      Komponen organik terutama terdiri atas karbohidrat, lipida, protein, dan beberapa komponen-komponen spesifik seperti enzim, vitamin, dan hormon.
Pada sel hewan dan tumbuhan, protoplasma mengandung sekitar 75-85% air, 10-20% protein, 2-3% lipida, 1% karbohidrat, dan 1% zat-zat anorganik lainnya. Protoplasma juga mempunyai sifat-sifat tertentu.

Berikut ini sifat-sifat protoplasma:
1.        Tak Tersaring
Protoplasma tidak dapat tersaring jika hanya menggunakan filter biasa. Bisa disaring menggunakan filter ultra. Partikel-partikel yang tersebar di dalam protoplasma dalam bentuk koloid tidak dapat dipisahkan dari fase selanjutnya dengan menggunakan kertas saring pada umumnya.
2.        Efek Tyndall
Larutan koloid protoplasma dapat memantulkan cahaya bila arah datang sinar tepat mengenai sistem koloid. Bila protoplasma yang merupakan sistem koloid ini disinari dengan sinar lampu listrik pada suatu ruang yang gelap akan memberi efek. Cahaya tersebut akan menembus larutan/massa protoplasma tersebut. Peristiwa pemantulan cahaya tersebut disebut efek Tyndall.
3.        Gerak Brown
Gerak Brown yaitu gerak dari molekul-molekul protoplasma yang tidak beraturan yang disebabkan oleh adanya molekul air. Molekul-molekul (partikel) pada sistem koloid protoplasma bergerak secara zig-zag. Gerak Brown pada protoplasma kecepatannya tergantung pada besarnya partikel dan suhu protoplasma. Gerak ini diteliti oleh Robert Brown (1827), seorang ahli Botani bangsa Skotlandia di dalam larutan koloid. Gerak Brown ini biasanya terjadi dalam larutan koloidal dan gerakannya tergantung pada temperatur dan ukuran partikel. Adanya gerak Brown menyebabkan berpencarnya partikel-partikel koloid ke seluruh bagian sel sehingga transportasi zat-zat dapat terjadi.
4.        Viskositas
Matriks sitoplasma yang cair memiliki tegangan permukaaan. Matriks protein dan lemak memiliki ketegangan permukaan yang kurang karenanya membentuk membran plasma, sedangkan bahan-bahan kimia misalnya garam NaCl tegangan permukaannya tinggi akibatnya NaCl menempati bagian yang lebih dalam pada matrik sitoplasma. Tegangan permukaan disebabkan oleh tertariknya molekul-molekul pada permukaan oleh molekul-molekul dibawahnya yang bergerak bebas dengan kekuatan pada setiap arah yang sama. Akibat tarikan tersebut molekul permukaan menjadi terikat sehingga terjadi tegangan yang disebut tegangan permukaan. Tegangan permukaan berubah-ubah tergantung dari kekentalannya dan suhu. Pada suhu yang tinggi, protoplasma mempunyai viskositas yang rendah.
5.        Koagulasi
Partikel-pertikel yang tersebar dalam protoplasma mempunyai muatan yang sama, akibat dari saling tolak yang berkelanjutan menyebabkan partikel-partikel tidak dapat mengendap dan keadaan ini mempertahankan stabilitas koloid. Jika ion atau partikel koloid dibuat berlawanan muatan listriknya, akibatnya akan bersifat netral, akibat selanjutnya partikel-partikel dalam system koloid akan menggumpal. Protoplasma dapat mengalami perubahan kekentalan dari fase sol ke fase gel dan sebaiknya. Bila kadar air tinggi koloid berbentuk sol, bila kadar air rendah koloid berbentuk gel. Kemampuan protoplasma mengalami fase sol atau gel menyebabkan protoplasma dapat mengembang mengkerut, misalnya pada gerakan amuba.

 DAFTAR PUSTAKA
Nova. 2011. Biologi Sel Protoplasma. http://ekologihewan-nova.blogspot.com/2011/12/biologi-sel-protoplasma.html (Online) diakses tanggal 24 September 2014
Hidayat, Aunurrofiq. 2011. Sifat Fisik Protoplasma. http://aunurrofiqhidayat.wordpress.com/2011/03/12/sifat-fisik-protoplasma/ (Online) diakses tanggal 24 September 2014
Anonim. 2014. Sifat Fisik dan Sifat Kimia Protoplasma. http://www.enjang.com/2014/03/sifat-fisik-dan-sifat-kimia-protoplasma.html (Online) diakses tanggal 24 September 2014